Teknologi Hijau sebagai Kunci Masa Depan Berkelanjutan


Made By Farrel Saputra

Sejak Revolusi Industri mulai digaungkan pada abad ke-18, era modernisasi telah dimulai. Penemuan mesin uap membuat kemajuan signifikan yang berdampak ke semua bidang kehidupan. Ditemukan alat transportasi massal, mesin listrik, komputer hingga internet menyebabkan perubahan sosial berupa kemajuan di seluruh dunia. Era Industry 4.0 telah dimulai. Menurut Wikipedia, Industry 4.0 adalah tren otomasi dan pertukaran data terkait komputasi, internet untuk segala, dan sebagainya sehingga meningkatkan produktivitas untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Penemuan-penemuan itu mengubah pandangan dunia terhadap teknologi. Perkembangan teknologi membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Muncul konsep-konsep terbaru mengenai internet (interconnected network), cloud computing, big data, Internet of Things (IoT),  Kecerdasan buatan (Artificial Intelegence), Blockchain, Robotika, dan lain-lain. Di era Society 5.0, masyarakat seakan dibuat "candu" oleh teknologi. 

Dampak Positif Teknologi:

1. Akselerasi Informasi 

Internet sebagai landasan informasi tersebar ke seluruh dunia. Platform seperti Youtube, Instagram, Tiktok, Google, dan sebagainya dipenuhi oleh banyak informasi terkini dan tersebar dengan cepat. Arus informasi yang tak terbendung ini, memiliki nilai positif untuk dapat direspon secara real-time. Tidak lagi memerlukan media koran dan tertulis lainnya, sehingga aktivitas menjadi mudah dan efisien. 

2. Komunikasi Menjadi Lebih Mudah

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) membuat orang lebih mudah untuk berkomunikasi satu sama lain secara real-time dan hanya membutuhkan internet. Aplikasi seperti Whatsapp, Instagram, dan aplikasi chat lainnya membuat komunikasi lebih mudah dan tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. 

3. Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas

Teknologi dikembangkan untuk kemajuan bersama. Hal ini membuat meningkatnya produktivitas dan efisiensi suatu aktivitas yang dilaksanakan secara kompleks. Berakibat pada bertumbuhnya ekonomi suatu wilayah karena kemudahan dalam berdagang. Terciptanya lapangan pekerjaan baru terkait transformasi digital dan arus mobilitas sosial semakin terbuka lebar. Masyarakat semakin mudah dalam melakukan kegiatan. Munculnya E-commerce, E-banking, dan E-learning, membuat hidup semakin mudah dijangkau. Hanya sebatas ujung jari, semua bisa dilakukan tanpa mengenal jarak dan waktu. 

Teknologi mungkin diciptakan untuk kemajuan global, namun banyak dampak negatif yang muncul akibat penyalahgunaan teknologi, yaitu: 

Dampak Negatif Teknologi

1. Kecanduan Terhadap Gadget

Teknologi menimbulkan lahirnya gadget, seperti smartphone. Gadget memiliki radiasi layar berupa cahaya biru yang menganggu pola tidur dan otak menjadi cepat lelah. Hal ini berpengaruh terhadap efektivitas otak untuk melakukan aktivitas dan berujung pada rendahnya produktivitas seseorang. Jika produktivitas menurun, maka efisiensi dari teknologi yang harusnya memudahkan dan membantu malah membuat kemunduran (regress) pada kehidupan sehari-hari. 

2. Sikap Individualisme Meningkat

Masyarakat di era Society 5.0 mengandalkan teknologi sebagai acuan dalam kehidupan. Hal ini mengakibatkan muncul sikap individualisme. Sikap individualisme adalah sikap mementingkan diri sendiri dan tidak sering melibatkan diri sendiri dalam kepentingan bersama. Berkembangnya sikap individualisme dapat menyebabkan degradasi moral bagi seseorang. Sikap ini menyangkut kurangnya empati seseorang yang berujung kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Apabila sikap ini terus menyebar, maka akan merusak moral suatu bangsa dan bertentangan dengan nilai-nilai sosial yang ada. 

3. Degradasi Lingkungan

Penggunaan teknologi tak selalu membawa keuntungan bagi kehidupan. Teknologi yang tidak memerhatikan keseimbangan ekosistem akan merugikan lingkungan alam, seperti penggunaan AC (Air Conditioner), penebangan hutan secara sembarangan, limbah sampah yang menumpuk, asap kendaraan bermotor, pabrik, dan lain-lain. Kerusakan lingkungan menimbulkan hilangnya habitat flora dan fauna, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan sebagainya. Semua faktor-faktor tersebut menjadi penyebab degradasi lingkungan yang menjadi masalah global yang penting untuk ditangani. 

Perubahan Iklim (climate change) 

Perubahan iklim merupakan topik yang ramai sekali diperbincangkan akhir-akhir ini. Teknologi yang awalnya dirancang untuk kemajuan global malah berdampak negatif pada lingkungan alam. Bagai pisau bermata dua, teknologi harus digunakan semestinya. 

Perubahan iklim adalah masalah lingkungan yang berdampak berkepanjangan. Perubahan iklim adalah kondisi berubahnya suhu dan pola cuaca dunia. Perubahan ini menyangkut tentang pemanasan global (global warming). Pemanasan global adalah situasi meningkatnya suhu bumi disebabkan penggunaan bahan bakar fosil, seperti batu bara, gas alam, minyak bumi yang dimulai sejak Revolusi Industri pada tahun 1700-an. Penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan meningkatnya polusi udara dan naiknya konsentrasi zat klorofluorokarbon (CFC). Zat ini menimbulkan penipisan lapisan ozon pada atmosfer. Lapisan ozon berperan penting untuk menyerap radiasi sinar ultraviolet (sinar matahari) dan menjaga keseimbangan suhu di bumi. Rusaknya lapisan ozon menyebabkan mencairnya gletser di kutub utara, naiknya permukaan laut, dan peningkatan suhu yang mengakibatkan kebakaran hutan, kekeringan, perubahan pola cuaca, dan perubahan kadar presipitasi (hujan) di suatu daerah. 


Panas yang masuk ke bumi akan terpantul lagi dan lagi yang membuat suhu global meningkat  
Made by Farrel

Hal ini diperparah oleh aktivitas manusia saat ini, penggunaan bahan bakar fosil, membuang sampah ke lingkungan, pemborosan sumber daya, deforestasi hutan (penggundulan hutan), dan industri manufaktur. Masalah ini merupakan masalah yang kompleks dan perlu adanya sikap nyata dari masyarakat global untuk bersama-sama kembali menjaga lingkungan. Akhirnya, dibentuklah program pembangunan berkelanjutan yang disusun oleh negara-negara anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada tahun 2015 dan diharapkan tercapai pada tahun 2030. 

Kesepakatan Global Terkait SDGs
Sumber Gambar: https://untar.ac.id/wp-content/uploads/2023/12/WhatsApp-Image-2023-12-15-at-11.56.00_bb5bbb04.jpg

Terdapat 17 tujuan SDGs (Sustainable Development Goals) yang ingin dicapai, antara lain, 
1. Tanpa kemiskinan
2. Tanpa kelaparan
3. Kehidupan sehat sejahtera
4. Pendidikan berkualitas
5. Kesetaraan gender
6. Air bersih dan sanitasi layak
7. Energi bersih dan terjangkau
8. Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi
9. Industri, inovasi, dan infrastruktur
10. Berkurangnya kesenjangan
11. Kota dan pemukiman yang berkelanjutan
12. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
13. Penanganan perubahan iklim
14. Ekosistem lautan
15. Ekosistem daratan
16. Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh
17. Menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan

Dengan 17 tujuan global, dunia bekerja sama untuk melawan perubahan iklim, pemanasan global, dan degradasi alam. Teknologi hijau hadir sebagai solusi untuk mengatasi perubahan iklim. 

Apa itu Teknologi Hijau?
 
Teknologi hijau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah green technology atau green tech. Teknologi hijau adalah teknik untuk menghasilkan energi, produk, atau barang yang tidak mencemari lingkungan atau bersifat ramah lingkungan. 

Tujuan Teknologi Hijau

Konsep teknologi hijau bertujuan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, mengurangi gas rumah kaca (GRK), mengurangi pemborosan sumber daya, meningkatkan efisiensi energi, meningkatkan kesejahteraan manusia, serta melindungi keanekaragaman hayati. 

Berbagai upaya telah dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik, mulai dari transisi energi berkelanjutan dan ramah lingkungan, kendaraan listrik, pertanian berkelanjutan, green building, sistem pengelolaan limbah sampah, biogas, infrastruktur hijau, dan smart grid. Beragam konsep tersebut telah dilaksanakan dan akan terus dilaksanakan dan dikembangkan. 

Penerapan Teknologi Hijau

1. Energi Baru dan Terbarukan (EBT)

Perkembangan teknologi dari zaman dahulu telah merusak ekosistem lingkungan akibat penggunaan energi fosil. Energi fosil menyebabkan polusi udara dan pemborosan sumber daya. Selama bertahun-tahun, penambangan batu bara, minyak bumi, dan gas alam telah merusak lingkungan. Dalam proses pengolahannya, mineral-mineral tersebut masih meninggalkan jejak karbon berupa asap pabrik. Mineral tersebut juga merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (Non-renewable resources) yang sewaktu-waktu dapat habis. Oleh karena itu, penggunaan energi terbarukan sangat didorong oleh berbagai pihak. Pengembangan energi yang dapat diperbarui berupa, energi matahari, angin air, biomassa, gelombang laut, dan panas bumi (geothermal energy) mulai dikembangkan. 

2. Kendaraan Ramah Lingkungan 

Kendaraan listrik (electric vehicle) sedang dikembangkan oleh berbagai perusahaan otomatif di seluruh dunia. Kendaraan listrik merupakan solusi jangka panjang untuk ketersediaan energi yang terbatas dan pengurangan emisi karbon. Kendaraan ini menggantikan kendaraan berbahan bakar bensin. Perubahan jenis kendaraan ini diharapkan dapat memulai transisi energi yang ramah lingkungan. Kendaraan listrik juga diterapkan pada alat transportasi massal, seperti bus listrik. 

3. Pertanian Berkelanjutan

Pertanian berkelanjutan adalah konsep pertanian yang efisien dan mencegah pemborosan sumber daya yang digunakan. Sistem irigasi pintar digunakan untuk mengelola cadangan air dan melakukan pengairan menggunakan teknologi. Pertanian vertikal juga menjadi solusi atas sempitnya lahan untuk bertani. Pertanian vertikal menggunakan konsep bertani secara vertikal dan sangat menghemat tempat. Di masa sekarang, lahan untuk pertanian semakin sedikit dan perlu adanya konsep pertanian vertikal dan vertical garden. Selain itu, kurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya karena dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air bila digunakan dengan dosis yang besar. Data dari Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa praktik pertanian berkelanjutan dapat meningkatkan hasil panen hingga 20% sambil mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia.


4. Pengelolaan Sampah dan Daur Ulang

Sampah adalah sisa-sisa dari penggunaan aktivitas manusia. Sampah semakin menumpuk di era perkembangan industri saat ini. Sampah yang menumpuk akan bercampur satu sama lain dan menghasilkan emisi karbon. Sampah plastik, styrofoam, dan sebagainya memiliki waktu yang sangat lama untuk terurai. Menurut data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional), jumlah sampah di Indonesia mencapai 69,9 juta ton. Banyak sampah yang hanya dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) tanpa ada proses daur ulang sampah menjadi barang bernilai guna. Banyak sampah-sampah itu dibuang ke tanah dan laut yang mengakibatkan pencemaran tanah dan air. Apalagi banyak sampah yang dibuang ke laut dan menyebabkan rusaknya habitat makhluk hidup di laut. 

 Flora dan Fauna Laut Kehilangan Habitatnya 
Sumber Gambar: https://poskita.co/wp-content/uploads/Template-Image-Blog-white-7-min.png

Oleh karena itu, terdapat sistem manajemen sampah berupa daur ulang sampah menggunakan prinsip 3R yang terdiri, reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (daur ulang). Kemudian, sampah bisa diolah menjadi energi biomassa dan biogas. Perlu adanya bank sampah untuk mengelola sampah, pemilahan dan pemilihan sampah, serta keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah. 

5. Teknologi Smart Grid

Smart Grid adalah sistem jaringan listrik yang menggunakan teknologi digital dan informasi untuk mengelola tenaga listrik agar dapat tersalurkan secara efisien. Teknologi smart grid dapat diintegrasikan dengan energi terbarukan sehingga dapat mengurangi emisi karbon. Teknologi ini juga telah digunakan oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk lebih mencocokkan pasokan listrik dan terdistribusikan secara merata. Hal ini mencegah suatu daerah kekurangan pasokan listrik. 

6. Konstruksi Ramah Lingkungan

Selain asap kendaraan bermotor, polusi udara, dan sampah plastik, ternyata ada yang membuat krisis iklim semakin parah, yaitu beton. Beton adalah campuran air, batu, pasir, dan semen yang sering digunakan sebagai bahan konstruksi gedung, jalanan, jembatan, dan sebagainya. Dalam proses pembuatannya, beton perlu dipanaskan hingga menghasilkan asap pembakaran yang begitu besar. Saking besarnya, bila industri beton digabungkan menjadi negara, maka akan menempati urutan ketiga penghasil emisi karbon terbesar di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat. 

Penggunaan beton sebagai bahan kontruksi 

Sumber Gambar: https://ichef.bbci.co.uk/ace/ws/640/cpsprodpb/E472/production/_104628485_birmingham_getty_976.jpg.webp


Untuk mengatasi masalah ini, terdapat cara, seperti penggunaan dan pengolahan beton lebih efisien dan ramah lingkungan, pengurangan penggunaan beton, dan membuat struktur rumah lebih kuat. Struktur suatu bangunan dapat ramah lingkungan, yaitu ventilasi alami, sistem drainase yang baik, peralatan hemat energi, dan penggunaan ruang hijau.

Meskipun teknologi hijau menawarkan banyak manfaat, ada juga tantangan yang perlu diatasi. Biaya awal untuk investasi di bidang teknologi hijau awalnya sangat besar, seperti pembangunan pembangkit listrik, meskipun biaya operasionalnya rendah dalam jangka panjang. Pemerintah juga harus bersinergi dengan masyarakat untuk bersama-sama mengurangi pemborosan energi dan sumber daya serta mendukung transisi energi berkelanjutan. Pemerintah dapat memberikan subsidi energi untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan. 

Dalam era perubahan iklim dan degradasi lingkungan, teknologi hijau muncul sebagai peluang untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan. Kesadaran akan tindakan kecil yang kita lakukan sekarang akan berdampak pada masa yang akan datang. Dengan inovasi teknologi yang terus berkembang, kita memiliki kesempatan untuk mencegah permasalahan kompleks terkait lingkungan. Hal ini akan berdampak pada generasi mendatang. Kita bisa berkomitmen bahwa kita dapat melindungi bumi dari kerusakan lebih lanjut dan mewarisi bumi yang sehat ke generasi mendatang. Mari kita bergerak sebagai agen perubahan untuk tempat tinggal kita sendiri, masa depan hijau menanti. Jika bukan kita, siapa lagi?
 
#OTN2024











Komentar

  1. sangat membantu dan menambah wawasan artikel nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah bisa memberi pengetahuan baru bagi Samuel.

      Hapus
  2. Blognya bagus banget!! Penggunaan kata dan PUEBI nya juga mantap!

    BalasHapus
  3. Keren… Semangat terus farrel

    BalasHapus
  4. Bagus, artikelnya bermanfaat. Smngt farrel

    BalasHapus
  5. Blognya sangat informatif dan menarik, semangat terus ya farrel

    BalasHapus
  6. Sangat bagus dan menarik blognya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Ki, bismillah bisa menyajikan yang terbaik untuk pembaca.

      Hapus
  7. Blognya keren bangetttt, informatif dan menarik banget, semangat ya farrel

    BalasHapus
  8. Good farrel, semangat selalu

    BalasHapus
  9. Balasan
    1. Pembahasannya sangat lengkap sekali

      Hapus
  10. Bagus Banget farrel

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Guru Nasional 2024 di SMP Negeri 109 Jakarta: Guru Hebat, Indonesia Kuat

Dari Harapan Menjadi Kenyataan, Impian Saya Menjadi Penulis Blog

Lebaran 1446 H: Kebahagiaan yang Tak Terlupakan Bersama Keluarga dan Mudik yang Penuh Makna